|
Naskah: Nurul Azka Foto: Achsan Abidin Agar Aqidah si Kecil Lurus dan Kuat  Anak yang memiliki aqidah yang lurus dan teguh adalah cita-cita Ayah dan Ibu, karena hanya anak seperti inilah yang akan selamat meniti kehidupan sampai ke akhirat. Langkah pertama memperoleh anak seperti ini? Ayah dan Ibu harus belajar dan menjaga agar aqidah mereka pun lurus dan teguh.
Maryam baru genap 2 tahun, namun semua yang berada di dekat gadis kecil berambut keriting ini akan menyadari besarnya potensi kecerdasan yang meletupletup dalam dirinya, serta proses belajar hampir tanpa henti di setiap waktu. Suatu kali ibunya berlagak menuntunnya ke luar rumah, namun Maryam mengelak. Mengapa? Oh, rupanya Ibu lupa, belum memakaikan jilbab pink mungilnya. “Iyam kan malu...” ujar Maryam. “Malu sama siapa?” tanya Erika.“Sama Awwah...” Erika dan beberapa orang di sekitar Maryam tertawa geli. Subhanallah, anak berusia 2 tahun sudah tahu bahwa dia harus merasa malu kepada Allah! Namun pastilah tawa Erika dan para orangtua lainnya diiringi juga dengan rasa syukur karena dua hal:  Maryam yang bersih suci ini sungguh masih berada dalam pelukan fitrah - potensi dasar yang diberikan Allah Ta’ala kepada semua manusia untuk mendekat dan menjadi hambaNya. Bukankah ini suatu hal yang memang disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bahwa semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan bahwa nantinyaorangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi?  Ibu dan ayah Maryam serta orang di sekitarnya berhasil menanamkan dalam kesadaran muda Maryam tentang pentingnya melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena Allah Ta’ala, dan menyadari bahwa yang harus paling membuatnya malu adalah ketidaktaatan kepada Allah Ta’ala. Kita menyaksikan sendiri betapa anak-anak di sekitar kita yang bahkan lebih besar daripada Maryam, termasuk gadis remaja dan perempuan dewasa, yang tidak merasa malu meninggalkan rumah tanpa menutup aurat. Mereka tidak malu kepada Allah, mereka tidak malu kepada manusia. Pada kesempatan yang lain, Maryam tiba-tiba saja bertanya kepada ibunya, “Awwah di mana Bu?” Sang ibu yang sebenarnya sudah banyak belajar dan sadar akan ada masanya dia harus menghadapi hujan pertanyaan dari anaknya, terhenyak. Cukup lama dia takmampu menjawab pertanyaan yang satu ini. Kalau Anda, Sahabat ALIA, menghadapi pertanyaan seperti ini dari si Kecil, apa jawab Anda? Jawaban yang benar akan Insya-Allah menjadi pondasi aqidah yang selamat dan kuat dalam diri anak, mewarnai sepanjang hidupnya dan Insya-Allah akan menjadi pintunya menuju ridha dan surga Allah. Sebaliknya, jawaban yang keliru bisa saja menjadi salah satu sebab tersesatnya anak dalam meniti kehidupannya. Sekarang ini, sesudah terus mengaji dan mempelajari tuntunan Islam mengenai pendidikan anak yang bersumberkan kepada Al-Quran dan hadits-hadits yang shahih, Erika bisa bertutur begini kepada Maryam: “Allah berada di atas arasy, di langit yang jauh...tapi Allah juga sangat, sangat dekat dengan Maryam. Allah lebih dekat dengan Maryam daripada Ibu. Allah lebih menjaga Maryam...” Modal Terbaik Apakah Anda khawatir bahwa seorang anak berusia 2 tahun tidak akan mampu memahami penjelasan sebagaimana yang diberikan Erika kepada Maryam? Ooh, jangan khawatir, Sahabat! Allah yang Mahasempurna telah menciptakan semua manusia dengan bekal terbaik untuk memahami tuntunan jalan lurus yang disampaikanNya lewat risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasulnya, yakni fitrah! Dengan fitrah yang terpelihara, seorang anak akan cenderung menyukai, menerima, memahami dan mengikuti semua hal yang akan semakin mendekatkannya kepada Allah Ta’ala. Sebagai Muslim dan Mu’min, kita tidak memerlukan bukti apa pun untuk mengimani ayat-ayat Allah yang berbicara tentang betapa Dia mengilhamkan kepada manusia untuk taat, serta perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang fitrah. Namun, tak ada salahnya membaca hasil penelitian ahli masa kini yang menemukan bukti anak-anak cenderung relijius, sebagaimana dibahas ALIA di halaman lain Edisi Khusus ini. Baca Selengkapnya Di Majalah Alia Edisi Maret 2010
|